Jakarta, 2 September 2026 — Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Syiah Kuala (FISIP USK) melanjutkan rangkaian kegiatan benchmarking dengan mengunjungi Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) di Jakarta pada Rabu (2/9/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari langkah strategis FISIP USK untuk menyerap praktik baik (best practices) dalam pengembangan program studi, penguatan tata kelola akademik, serta persiapan akreditasi.
Kunjungan ini berfokus pada pengembangan Program Studi Ilmu Komunikasi dan Program Studi Hubungan Internasional yang sedang mempersiapkan akreditasi pertama mereka. Diskusi antarkedua institusi mencakup berbagai aspek esensial, mulai dari pengelolaan laboratorium, dokumentasi kegiatan akademik dan kemahasiswaan, strategi peningkatan riset, hingga pencatatan prestasi mahasiswa.
Optimalisasi Laboratorium dan Dokumentasi Akademik Salah satu sorotan utama dalam diskusi tersebut adalah strategi tata kelola laboratorium. Dalam kerangka akreditasi, penamaan fasilitas laboratorium tidak wajib dikhususkan pada satu program studi. Laboratorium dapat digunakan secara lintas program studi (lintas disiplin) selama memiliki fungsi, pemanfaatan, dan jadwal yang terstruktur.
Lebih jauh, keberadaan laboratorium harus didukung oleh ruang khusus, regulasi penggunaan, dan modul pembelajaran aplikatif yang benar-benar diimplementasikan oleh mahasiswa. Modul tersebut tidak boleh sekadar menjadi dokumen administratif, melainkan harus terintegrasi langsung dengan mata kuliah spesifik, membuktikan bahwa laboratorium adalah sarana vital dalam proses transfer pengetahuan.
Selain fasilitas fisik, penguatan sistem dokumentasi juga menjadi kunci. UAI menekankan bahwa setiap kegiatan akademik dan pengabdian kepada masyarakat wajib dibekali bukti yang sistematis—mulai dari surat tugas, dokumen pelaksanaan, hingga laporan akhir—agar mudah diverifikasi oleh asesor.
Strategi Riset dan Pemenuhan Akreditasi Di bidang penelitian, diskusi menyinggung strategi klasifikasi publikasi internasional bereputasi. Mengingat seringnya terjadi perbedaan interpretasi mengenai batasan pengindeksan, program studi disarankan untuk menyajikan data publikasi secara komprehensif sesuai dengan instrumen akreditasi.
Terkait persiapan akreditasi pertama, program studi diimbau untuk segera mengajukan borang sebelum memasuki masa penerimaan mahasiswa angkatan ketiga. Pencatatan prestasi mahasiswa—termasuk di tingkat internasional dan di luar periode utama penilaian—juga harus diarsipkan secara rapi untuk menambah poin penilaian institusi.
Sinergi Menuju Pencapaian SDGs Langkah proaktif FISIP USK dalam memperkuat sistem mutu tata kelola pendidikan ini tidak hanya penting untuk akreditasi, tetapi juga menjadi wujud nyata komitmen institusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).
Secara khusus, kegiatan ini berkontribusi langsung pada pemenuhan SDG 4: Pendidikan Bermutu (Quality Education), di mana peningkatan fasilitas laboratorium, kualitas riset, dan sistem pembelajaran bertujuan untuk memastikan pendidikan tinggi yang inklusif, merata, dan berkualitas. Di samping itu, kolaborasi erat antara FISIP USK dan UAI merepresentasikan SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan (Partnerships for the Goals), yang membuktikan bahwa sinergi dan pertukaran pengetahuan antar-institusi adalah fondasi penting untuk memajukan sektor pendidikan nasional secara berkelanjutan.
Komitmen Tata Kelola Berkelanjutan Melalui benchmarking ini, FISIP USK menyimpulkan bahwa kesuksesan akreditasi tidak sebatas pada kuantitas program yang dijalankan, melainkan pada kualitas tata kelola dan kelengkapan bukti implementasi.
Bagi Program Studi Ilmu Komunikasi dan Hubungan Internasional, wawasan dari UAI ini akan menjadi pijakan kuat untuk membangun sistem mutu yang terintegrasi sejak dini. Ke depannya, FISIP USK berharap kunjungan ini tidak hanya menjadi ajang pertukaran informasi sementara, tetapi menjadi fondasi transformasi kelembagaan menuju fakultas yang adaptif, terdokumentasi dengan baik, dan berorientasi pada peningkatan mutu berkelanjutan.

