BANDA ACEH — Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Syiah Kuala (FISIP USK) menggelar evaluasi Program Magang Berdampak. Langkah ini dilakukan guna meningkatkan kualitas pembelajaran mahasiswa sekaligus memperkuat manfaat program bagi lembaga mitra.

Evaluasi yang dilaksanakan pada Kamis, 17 September 2026 tersebut menyoroti sejumlah aspek penting, seperti kejelasan rencana kegiatan, keaktifan dosen pendamping lapangan (DPL), hingga kesesuaian penugasan mahasiswa dengan kompetensi akademik. Kegiatan ini turut menghimpun perspektif dari pihak universitas dan pengalaman dari berbagai lembaga mitra.

Pengalaman Kemitraan dan Dampak Nyata

Dalam evaluasi tersebut, Katahati Institute mencatat bahwa sebanyak 22 mahasiswa dari empat program studi di FISIP USK telah berpartisipasi dalam kemitraan selama lima semester. Para mahasiswa terlibat langsung dalam advokasi perdamaian, analisis kebijakan publik, serta pendampingan komunitas di enam kabupaten/kota di Aceh, yaitu Bener Meriah, Aceh Tengah, Aceh Timur, Gayo Lues, Aceh Utara, dan Lhokseumawe.

Pengalaman lapangan ini turut mendukung capaian akademik mahasiswa, di mana kegiatan pendampingan masyarakat di Bener Meriah dan Aceh Tengah diolah menjadi bahan penyusunan skripsi, penulisan artikel ilmiah, hingga produksi konten kampanye media sosial lembaga mitra.

Sementara itu, evaluasi magang di Dinas Registrasi Kependudukan Aceh (DRKA) yang melibatkan 43 responden memberikan beberapa masukan. Masukan tersebut antara lain berkaitan dengan komunikasi dan responsivitas dosen pendamping, proses konversi nilai, fasilitas kerja, serta harapan peningkatan porsi praktik lapangan dan budaya pelayanan yang ramah.

Arahan Universitas dan Rekomendasi Pengembangan

Dari pihak universitas, Direktorat Pendidikan dan Administrasi Akademik USK menekankan pentingnya penyusunan rencana kegiatan dan rincian tugas bersama lembaga mitra sejak awal penempatan. Kesepahaman terkait indikator penilaian dan capaian pembelajaran sangat krusial agar penugasan mahasiswa tetap relevan dengan bidang studinya serta menghasilkan kontribusi yang terukur.

Evaluasi ini juga mengidentifikasi sejumlah tantangan, seperti koordinasi pendampingan, kedisiplinan pelaporan kegiatan, ketersediaan waktu pembimbing mitra, serta penugasan yang masih didominasi pekerjaan rutin.

Sebagai solusi, beberapa rekomendasi strategis diusulkan:

  • Penguatan peran DPL dalam mendampingi dan memantau perkembangan mahasiswa secara berkala.

  • Penerapan penugasan berbasis proyek dan kompetensi agar mahasiswa dapat berkontribusi secara lebih optimal.

  • Penyesuaian kuota peserta dengan kapasitas dan kebutuhan lembaga mitra.

  • Keterlibatan mahasiswa dalam evaluasi serta pengarsipan karya guna memperjelas pencapaian program secara terdokumentasi.

Melalui evaluasi komprehensif ini, FISIP USK berkomitmen untuk terus mengembangkan Program Magang Berdampak agar tidak hanya meningkatkan kesiapan kerja mahasiswa, melainkan juga memberikan dampak positif yang nyata bagi masyarakat dan lembaga mitra.

Kegiatan Evaluasi Mahasiswa Magang Berdampak berkaitan dengan beberapa Sustainable Development Goals (SDGs), terutama:

SDG 4 – Pendidikan Berkualitas, melalui penguatan pembelajaran berbasis pengalaman dan pengembangan kompetensi mahasiswa.
SDG 8 – Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, melalui pembekalan pengalaman kerja dan keterampilan profesional bagi mahasiswa.
SDG 17 – Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, melalui keterlibatan perguruan tinggi, dunia usaha/CSR, dan instansi pemerintah dalam pelaksanaan serta evaluasi program magang.

Categories: